Advertisement

HAL-TENG, WARTANUSANTARA.id Desa Messa baru saja menorehkan sejarah baru dalam perjalanan demokrasi tingkat desa. Dari hasil pemilihan kepala desa (Pilkades) yang berlangsung penuh antusiasme, nama Damhar Salasa resmi keluar sebagai pemenang dengan raihan 220 suara, unggul jauh dari dua kandidat lainnya, yakni Talib Bayanyo yang memperoleh 120 suara dan Henda Ibrahim dengan 9 suara.
Selisih 100 suara di desa yang dihuni sekitar 1.200 jiwa itu bukan sekadar angka statistik. Itu adalah simbol kepercayaan besar masyarakat kepada sosok muda yang dianggap mampu membawa perubahan nyata bagi masa depan desa. Dengan kemenangan tersebut, Damhar Salasa kini resmi menyandang status sebagai kepala desa termuda di Kecamatan Weda Timur, Kabupaten Halmahera Tengah.
Kemenangan Damhar bukan hanya kemenangan personal, melainkan juga kemenangan gagasan tentang regenerasi kepemimpinan. Di tengah budaya politik desa yang selama ini identik dengan figur senior dan tokoh-tokoh lama, masyarakat Messa justru memilih wajah baru, energi baru, dan harapan baru.
“Katong pilih Damhar karena dia anak muda yang mau dengar. Dia lahir besar di sini, tau susahnya nelayan kalau es batu mahal,” ujar Yusran Odeyani (42), seorang nelayan asal Dusun 1. Menurutnya, masyarakat sudah memberi kesempatan kepada generasi tua untuk memimpin, dan kini saatnya generasi muda diberi ruang untuk membuktikan kemampuan.
Desa Messa sendiri bukan desa biasa. Sejak tahun 1910, wilayah ini dirintis oleh leluhur Sawai bernama Barahima. Makamnya yang berada di Pulau Mtum Mya hingga kini masih menjadi jere, tempat sakral yang dipercaya warga sebagai ruang meminta petunjuk dan penghormatan terhadap leluhur.
Selain masyarakat asli Sawai, Desa Messa juga dihuni oleh beragam suku seperti Makian, Jawa, Bugis, hingga Patani. Kehidupan sosial yang majemuk itu membuat kepemimpinan di desa ini membutuhkan keseimbangan antara modernisasi dan penghormatan terhadap adat istiadat.
Secara geografis, Messa berada di pesisir Teluk Weda dan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari hasil laut. Namun, seperti banyak desa pesisir lainnya, persoalan klasik masih terus membayangi, mulai dari harga ikan yang tidak stabil, sulitnya akses kesehatan, hingga keterbatasan infrastruktur dasar.
Salah satu persoalan mendesak adalah status lahan Puskesmas Messa yang hingga kini masih menjadi pembahasan dalam rapat gabungan DPRD Halmahera Tengah. Warga berharap kepemimpinan baru mampu mempercepat penyelesaian persoalan tersebut.“Puskesmas itu penting. Kita berobat harus ke Weda, jauh sekali. Kalau Damhar janji urus, katong pasti tagih,” kata Nurlela Sangadji (35), ibu rumah tangga dari Dusun 2.
Dengan legitimasi kuat dari 220 suara, Damhar dinilai memiliki modal sosial yang cukup untuk bergerak cepat. Generasi muda dianggap lebih terbiasa dengan pola kerja yang terbuka, responsif, dan berbasis teknologi. Pengelolaan APBDes, misalnya, diharapkan bisa dilakukan lebih transparan dan akuntabel, bukan sekadar formalitas administratif.
Selain itu, Damhar juga dipandang sebagai sosok penghubung antara generasi muda dan para tetua adat. Ia dikenal aktif dalam kegiatan sosial desa serta tetap menghormati nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun.“Dia masih hormat sama orang tua adat. Kalau ada acara di jere Mtum Mya dia datang. Itu penting,” tutur Mahmud Do Kaleser (58), tokoh adat Sawai.
Bagi kalangan muda, kemenangan ini juga memberi semangat baru. Mereka merasa memiliki representasi langsung dalam pemerintahan desa, bukan sekadar menjadi penonton.“Katong anak muda bosan disuruh-suruh saja. Sekarang teman sendiri yang jadi kades, jadi katong juga harus bantu,” ujar Rifaldi Yakub (23), anggota karang taruna setempat.
Kemenangan Damhar Salasa menjadi pesan politik penting bagi seluruh Halmahera Tengah. Bahwa regenerasi tidak harus menunggu krisis. Bahwa desa pesisir pun mampu melahirkan pemimpin muda yang dipercaya rakyat. Dari tujuh desa di Weda Timur, Messa kini menjadi contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari keberanian memilih yang baru.
Namun tentu saja, usia muda bukan jaminan keberhasilan. Tantangan besar telah menanti. Damhar harus menyelesaikan persoalan batas wilayah dengan desa tetangga seperti Dote, Yeke, dan Waci. Ia juga harus memastikan dana desa benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan habis dalam kegiatan seremonial tanpa manfaat nyata.
Pembangunan Puskesmas, penguatan sektor perikanan, pembentukan BUMDes produktif, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan akses internet menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda.
Karena itu, keberhasilan Damhar tidak hanya bergantung pada dirinya sendiri. BPD, tokoh adat, pendamping desa, dan seluruh masyarakat Messa memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengawal jalannya pemerintahan.
Program harus ditagih dengan data. Anggaran harus diawasi dengan transparan. Kritik harus tetap hidup, tetapi ruang belajar juga harus diberikan. Sebab jika generasi muda gagal hanya karena tidak diberi kesempatan bertumbuh, maka yang padam bukan hanya satu nama, tetapi harapan besar regenerasi di seluruh Maluku Utara.
Kini, Teluk Weda menunggu gelombang baru. Dan dengan 220 suara di pundaknya, Damhar Salasa memikul harapan besar untuk membawa Desa Messa dari pinggir peta menuju pusat perhatian pembangunan desa di Halmahera Tengah.
.png)